
Autisme, … adalah kata yang cukup aneh terdengar di telinga saya. Saya yang menempuh pendidikan di dunia pertamanan belum pernah bertemu dengan anak yang menderita autism tersebut.
Karena kebetulan saya masuk pelatihan autisme Al-Ihsan. Awalnya saya takut melihat mereka, menjerit, tertawa, lari-lari, marah dan menyakiti diri mereka sendiri. Ada apa dengan mereka … Saya tidak sanggup tuk mendidik mereka, takut, ga tega. Saya kabur pulang ke kampung. Di perjalanan pulang saya bertemu dengan seorang anak laki-laki diatas kapal penyebrangan Bakauheuni – Merak. Dikapal tersebut si anak lari-lari dan meronta-ronta. Saya bertanya dengan ibunya, “kenapa anak Ibu”? Ibu tersubut dengan wajah sendu mengatakan kalau anaknya menderita autisme hiperaktif. Si ibu itu tersebut tidak sanggup untuk membawa anaknya untuk terapi karena biayanya mahal. Si ibu juga tidak paham apa yang tidak boleh dikonsumsi anaknya agar hiperaktifnya berkurang.
Saya melamun diatas kapal tersebut dan saya berfikir, Seandainya saya nanti punya anak atau saudara menderita autisme, saya juga tidak sanggup menanganinya. Kenapa saya tidak “cari ilmu” di Al-Ihsan. Saat itu saya belum berkeluarga. Dengan perdebatan panjang bersama keluarga yang tidak member saya restu untuk bekerja di dunia autism.
Akhirnya saya mantapkan hati untuk kembali kembali ke Tangerang dan ingin bergabung dengan Al-Ihsan. Saya kuatkan hati dan nawaitu tuk ikut mendidik anak autism. Saya rajin membaca buku-buku tentang autism dan pelatihan-pelatihan yang sering diadakan. Saya selalu bertanya pada ahli yang lebih dulu paham tentang autisme.
Banyak suka duka saat saya mengajar di Al-Ihsan bersama siswa-siswa saya yang pandai-pandai. Saya ikhlas bermain dan belajar dengan mereka. “Siswaku yang pandai, kamu pasti bias mandiri. Ibu Evi doakan”.
Share on Facebook
Incoming search terms:
Baca Juga ...!