SIDEBAR
»
S
I
D
E
B
A
R
«
FAKTA KUNCI mengenai Tantrum
June 3rd, 2010 by al-ihsan

fakta kunci mengenai tantrum

  1. Meskipun amarah merupakan emosi yang paling jelas terlihat oleh orang tua, dan orang tua sering menggambarkannya sebagai episode temper tantrum (tantrum amarah), amarah hamper selalu diikuti dengan perasaan anak-anak lainnya, seperti putus asa atau panic.
  2. Kenyataan yang cukup jelas tapi kadang dilupakan adalah bahwa seorang anak tidak mengalami tantrum jika ia sendirian. Tantrum yang parah dating di saat ada orang lain. Tantrum hamper selalu terjadi saat si kecil bersama orang tuanya, atau orang lain yang membuat si anak merasa sangat nyaman dan terbiasa. Untuk menciptakan sebuah tantrum di perlukan dua orang. Jadi tantrum bersifat interaktif, tidak sekedar reaktif.
  3. Temperamen anak turut andil. Seorang anak yang lebih aktif dan berkemuan, kemungkinan mengalami tantrum lebih tinggi. Orang tua biasanya mengetahui dari sejak masih bayi apakah jenis anak mereka seperti ini. Saat bayi, mungkin mereka kelihatan cengeng dan lebih mengganggu atau tidur kurang lelap dibandingkan bayi-bayi yang lain.
  4. Adanya perkiraan bahwasatu dari lima anak yang beusia 2 tahun, sekurangnya mengalami dua kali tantrum perhari. Hal ini berarti bahwa empat dari lima anak lainnya tidak memiliki tantrum.
  5. Meskipun ungkapan “usia dua tahun yang menyulitkan” menyimpulkan bagaimana dan kapan umumnya tantrum terjadi. Tantrum dapat bermula pada usia 1 tahun bahkan hingga 5 tahun pada kasus tertentu.
  6. Jika orangtua berhasil menanganinya sejak dini, tantrum mungkin jarang terjadi jika anak beranjak besar dan tantrum terburuk akan berlalu pada usia 3 atau 4 tahun.
  7. Tantrum pada anak yang berusia lebih dari 4 atau 5 tahun jarang meledak menjadi kejadian yang sulit di kendalikan sebagaimana anak usia 2 tahun. Pada usia ini, anak sudah dapat berbicara mengenai amarah dan keputusasaaannya,  dan berusaha untuk mengendalikan perasaannya itu sehingga biasanya dia tidak lagi menggunakan tantrum guna menyalurkan emosinya.
  8. Tantrum sering terjadi ketika perasaan seorang anak lepas kendali, seperti air mendidih meluap. Pernahkah Anda melihat panci berisi susu mendidih dan meluap diatas kompor? Bahkan mengangkatnya dari api tidak akan menghentikan reaksi itu. Seperti itulah perumpamaan tantrum.
  9. Diperkirakan tiga perempat dari seluruh tingkahlaku tantrum terjadi di rumah.  Namun tantrum terburuk sering ditujukan di tempat-tempat umum yang menjamin anak mendapat perhatian sebesarnya dengan membuat orang tua merasa benar-benar malu. Tantrum klasik, seperti tingkah anak yang menggeliat di lantai psar swalayan, menjerit dan tengkurap sering ditemukan karena hal ini sangat umum.
  10. Tingkah laku tantrum secara umum meliputi berteriak, menjerit, menangis, memukul, menendang, mengejangkan badan, berontak, melempar badan di lantai, dan berlari menjauh.
  11. Tantrum yang benar-benar parah dapat membuat wajah seorang anak menjadi biru, sakit, bahkan sesenggukan nafasnya hingga ia hampir  tidak sadarkan diri. Tetapi refleks alami akan menjamin ia bernafas lagi sebelum bahaya muncul.
  12. Biasanya orang tua melihat si anak seperti sengaja bersikap sulit, padahal si anak hampir  tidak pernah melakukan tantrum karena alas an kesengajaan itu. Secara umum, tantrum merupakan ungkapan dari rasa kehilangan kendali, ada yang sebagian mungkin melibatkan usaha menipu. Tantrum juga merupakan respons rumit terhadap perasaan putus asa, tak berdaya, dan amarah yang terjadi karena tidak ada cara untuk mengatasi perasaan tersebut.

Incoming search terms:

Baca Juga ...!


2 Responses  
  • Kamilah Zared writes:
    December 7th, 20106:26 AMat

    Mengatasi temper tantrum untuk anak autis:
    1. Dapat dengan menggunlung anak dengan kasur tipis, dan diamkan sampai anak merasa kelelahan

    2. Buat simpul dari tangan sampai ke kaki, ikat dengan tali (tetapi jangan mengikat terlalu keras), hingga perhatian anak autis tertuju dalam membuka simpul tali

    3. Dapat dilakukan oleh ayah / ibu : Dudukkan anak (posisi memeluk dari belakang) tekan paha anak dengan kedua kaki, bungkukkan anak tahan dengan kedua tangan.

    Setelah tantrum selesai, peluklah anak autis dengan perasaan cinta kasih….

  • al-ihsan writes:
    December 18th, 201011:23 AMat

    Terimakasih untuk masukannya Bu Kamilah Zared.


Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
*
SIDEBAR
»
S
I
D
E
B
A
R
«


»  Substance:WordPress   »  Style: Ahren Ahimsa
© Sekolah Khusus Autisme Al-Ihsan, mendidik dengan hati dan kasih sayang.

Sekolah Autisme Al-Ihsan is Digg proof thanks to caching by WP Super Cache