Penelitian Tantrum
June 4th, 2010 by al-ihsan
Selama ini, psikologi dan peneliti telah memperlihatkan minat besar mereka untuk mendalami permasalahan tingkah laku sulit pada anak termasuk tantrum.
Pertanyaan yang mereka ajukan meliputi :
Apakah tantrum itu sesuatu yang terpisah, atau secara umum menjadi bagian dari tingkah laku anak yang sulit?
Apa yang terdapat pada tantrum yang parah?
Apakah anak-anak pasti mengalaminya?
Bagaimana tindakan si anak dan orangtuanya ketika tantrum usai?
TEMUAN PENTING
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa tantrum terjadi sekurangnya sekali seminggu pada 50-80 persen anak pra sekolah. Ini menunjukkan tantrum normal terjadi.
Ada penelitian yang menunjukkan bahwa 5 hingga 20 persen anak-anak mengalami tantrum cukup parah yang menuntut kepedulian orang tuanya.
Penelitian menunjukkan bahwa penyebab utama tantrum pada anak adalah konflik mereka pada orang tua, yang paling umum mengenai :
Konflik mengenai makanan dan makan (16,7%)
Konflik karena meletakkan anak di kereta dorong, kursi tinggi untuk bayi, tempat duduk di mobil, dan sebagainya (11,6%)
Konflik mengenai pemakaian baju (10,8%)
Biasanya tantrum memiliki tahapan berbeda dengan tanda peringatan, seperti menuntut perhatian atau “mencari masalah”. Hal tersebut sering diakhiri dengan tangisan sedih dan kemauan untuk di bujuk.
Peneliti-peneliti mengungkapkan bahwa tantrum yang parah berlangsung lebih dari 15 menit dan terjadi tiga kali atau lebih dalam sehari. Berdasarkan informasi ini dapat dikatakan 6,8 persen dari 502 sampel anak mengalami tantrum yang parah. Lebih dari setengah sampel dengan tantrum parah ini mengalami masalah tingkah laku.
Beberapa faktor yang dapat meningkatkan tantrum adalah gangguan tidur, masalah berbicara, sakit yang parah, stress maternal dan depresi, serta tekanan dalam penanaman disiplin.
Tantrum diduga lebih banyak terjadi pada anak laki-laki dan dalam rumah tangga yang relative kurang nyaman, tetapi hal ini belum terbukti secara jelas.
Sebuah survey menemukan bahwa 35persen tantrum di akhiri dengan dekapan, dan si anaklah yang sering memulai gerakan pertama untuk mendekati orang tua.
Penelitian lain mengungkapkan bahwa tindakan yang menimbulkan rasa nyaman seperti menghisap ibu jari atau menggunakan mainan yang lembut meningkat setelah tantrum berlangsung.
Tingkah laku tantrum amarah lebih buruk pada awalnya dan kemudian mereda.Saat tantrum menekan, tingkah laku buruk cenderung meningkat.
Anak yang pemarah sering tumbuh menjadi orang dewasa yang pemarah pula, terutama pada situasi yang melibatkan konflik interpersonal dan menuntut perundingan, seperti dalam pernikahan dan saat menjadi orang tua.
Share on Facebook
Incoming search terms:
Baca Juga ...!
Leave a Reply